Menyebarnya SARS-CoV-2, atau lebih dikenal dengan Covid-19, menimbulkan kekhawatiran mengenai penularan virus tersebut di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Dalam situasi pandemi seperti sekarang, Lapas dapat diibaratkan seperti “aquarium”. Sekali satu orang di dalamnya tertular, maka penularan terhadap populasi sisanya tidak terhindarkan (Meliala, 2020). Untuk mencegah penularan, hingga 20 April 2020 Kementerian Hukum dan HAM melalui Permenkumham No. 10 Tahun 2020 telah mengeluarkan 38.822 narapidana, kecuali yang terkait tindak pidana terorisme dan kejahatan lain yang diatur dalam PP 99/2012.

Berdasarkan data Direktorat Binapi Latkerpro, Ditjenpas, kondisi Lapas High-Risk Teroris di tengah pandemi ini cenderung terkendali (Junaedi, 2020). Diyakini bahwa potensi penyebaran virus corona sangat rendah, sehubungan dengan prosedur kerja Lapas High- Risk yang sudah menerapkan lockdown serta physical dan social distancing bahkan jauh sebelum Covid-19 muncul. Namun, bukan berarti Lapas High-Risk sudah sepenuhnya bebas dari risiko penyebaran Covid-19.

Data Persebaran Napiter di dalam Lapas

Selain potensi penularan Covid-19 di Lapas High- Risk Teroris, Ditjenpas tetap perlu memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban (kamtib) di Lapas-Lapas non-high-risk yang memiliki napiter. Oleh sebab itu, dalam kondisi tidak biasa seperti sekarang pihak Lapas perlu mempertimbangkan potensi penularan Covid-19 ke dalam Lapas High Risk dan belajar dari kasus-kasus terdahulu, bahwa narapidana kategori teroris mampu memicu kerusuhan lewat eksploitasi berbagai isu, termasuk Covid-19.

Key points

  1. Lapas High-Risk cenderung lebih mampu mengatasi penyebaran dan penularan Covid-19 dibanding Lapas biasa karena adanya sistem one man one cell dan pembatasan kontak antara narapidana dengan sesamanya dan narapidana dengan petugas yang membuat beberapa prosedur mitigasi Covid-19 sudah dilakukan. 
  2. Lapas penting untuk melakukan pemeriksaan rutin kepada setiap petugas, menyediakan tempat cuci tangan dan sabun yang memadai, dan mematuhi seluruh prosedur mitigasi Covid-19 tanpa terkecuali. 
  3. Lapas perlu menaruh perhatian besar kepada narapidana bandar dan juga teroris, yang memiliki potensi gangguan keamanan dan ketertiban umum. 
  4. Lapas tetap harus menjalankan fungsi intelijen, tetap menjaga kewaspadaan dan penjagaan di lingkungan sekitar, mengingat aksi terorisme tidak berhenti selama Covid-19 ini.